Bagi saya manusia-manusia yang bertoleransi tinggi itu keren, jiwanya pasti cocok untuk jadi seorang pemimpin.

Apalagi buat negara tercinta kita yang jelas-jelas punya tagline ber-Bhineka Tunggal Ika, siapa yang gak punya toleransi antar sesama anak negeri gak pantes deh ngaku cinta negara.

Untuk urusan perbedaan agama juga paling sensitif, Indonesia memang bukan “Negara Agama” seperti Arab Saudi, tapi kita adalah “Negara Beragama” dan itu lebih membutuhkan sikap toleransi antar sesamanya.

“Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda jika ingin kita menyembahnya dengan satu cara?”

Aaya sudah menemukan jawabannya.

“Karena itulah alasan Tuhan menciptakan Cinta, agar meski berbeda-beda kita tetap menjadi Satu”

Yang tidak menghargai perbedaan adalah orang-orang yang belum dimaknai oleh ‘Cinta’ *kasihan*.

Saya percaya bahwa semua traveler yang sudah menemui banyak perbedaan suku, bahasa dan agama pasti memiliki rasa toleran yang tinggi, dan saya mencoba menumbuhkannya dalam hati.

Perjalanan ke bagian selatan Thailand bulan lalu lebih banyak mengunjungi tempat-tempat peribadatan kaum beragama Buddha.

Tidak ada hal negatif yang ditemui tiap tempatnya, justru saya kagum karena mereka yang sedang melaksanakan ibadahnya tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran kami.

Senyum orang-orang yang taat pada Tuhannya itu manis loh, serius deh!

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance

Baca Juga : Teman Baru Di Pulau Pramuka

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance

The Biggest Sleeping Buddha Statue.

Uncle yang menemani kami menjelajah Hatyai menjelaskan bahwa patung raksasa Buddha yang sepertinya sedang tertidur ini sesungguhnya adalah pose dari kematiannya Sang Buddha yang damai, wajahnya yang dihiasi senyum dengan satu tangan menumpunya menunjukkan kedamaian tersebut.

Ada dua patung Slepping Buddha di Hatyai, tapi kami hanya sempat mengunjungi yang satu ini.

BACA JUGA :  Discovering Chanoyu : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Upacara Minum Teh

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance

Kuil disisi kanan Sleeping Buddha.

Percaya atau tidak saya menemukan selembar Sajadah diatas ubin bagian pojok tempat ini.

Saya mencoba meyakinkan dengan bertanya pada teman saya yang juga membenarkannya.

Kami agak sungkan untuk sempat memotretnya karna ada dua orang lelaki yang sepertinya penjaga tempat ini.

Entah itu benar-benar sebuah Sajadah untuk shalat atau bukan kami tidak ingin memusingkannya dan menganggap itu sebagai hal yang positif-dan keren.

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance

Tika, Uncle dan Sarah, will miss this moment ;’)

Keuntungan dari beberapa destinasi di Hatyai ini adalah gratis tanpa biaya tiket masuk, hanya di sediakan wadah recehan koin bagi yang berkenan memberi beberapa sen untuk pemeliharaan, itupun tidak di semua tempat kunjungan.

Di bagian depan The Biggest Sleeping Buddha Statue terdapat juga beberapa kuil yang didepannya banyak dihiasi bendera Thailand dan tenang ajah, it’s still free.

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance

Memasang Sang Merah-Putih yang kami bawa *seenaknya –“

Baca Juga : Tertambat Hati di Desa Sawarna

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance
Dua teman saya ini memang over hyperactive anaknya, memasang bendera di negara orang sesuka hati atau menerbangkannya ke langit hanya beberapa contoh, sisanya bisa diluar akal sehat.

Tapi itu semua hanya bukti sebuah ledakan-ledakan dari kecintaan kami.

Di manapun berada, rumah (red: Indonesia) tetap selalu begitu mudah untuk dirindukan-bahkan tiap milisenti perbedaan didalamnya.

Semoga rasa toleransi kami bisa tumbuh lebih besar dari the bigger-bigger Buddha statue manapun.

Selamat menjumpai perbedaan dan merindukan ‘rumah‘ para musafir ;’)

Next, mungkin liburan ke Bangkok Thailand saja ya?

The Biggest Sleeping Buddha Statue ; Sense of Tolerance

You may also like

6 Comments

  1. Hampir semua sleeping budha pose nya sama semua. Kayak lagi berjemur dipantai jadi wolessssss.
    Jangan lupa mesti liat sleeping budha versi indonesia di trowulan

Leave a Reply

Your email address will not be published.