Udah bukan rahasia lagi ya tentang paradigma yang terbentuk di masyarakat kita bahwa pendidikan paling ampuh, baik dan utama adalah hanya dari sekolah. Anak harus masuk PAUD supaya gak kaget masuk TK, anak harus masuk TK supaya bisa belajar membaca, menulis dan berhitung. Dan begitu terus sampai orang tua mengirim anak ke universitas. Kemudian kita lupa, bahwa pendidikan kemampuan intelektual anak, moral serta kereligiusan adalah tugas utama orang tua yang (seharusnya) baru kemudian diestafetkan pada guru di sekolah. Supaya apa? Supaya fondasinya kuat. Karna menurut saya, intensitas anak berada di rumah bersama orang tuanya jauh lebih banyak dibandingkan di luar rumah, jadi udah pasti bakal lebih berperan dan melekat.

Coba kita teliti lagi, apakah semua sekolah udah pasti punya lingkungan yang baik sampai ia kuliah nanti?! Saya yakin, tiap anak berpeluang untuk berhadapan dengan teman yang tidak berprilaku baik. Lalu, jika gak punya fondasi dari rumah apa yang terjadi?! Ah enggak kok, lingkungan sekolahnya sudah dijamin baik. Kita lihat kemungkinan lainnya.. Karena merasa yakin dengan lingkungan sekolah kemudian menjadi alasan untuk kita abai. Yaitu pendidikan pendidikan yang di berikan sekolah untuk siswa, terutama dalam hal moral dan kereligiusan hanya sebatas di sekolah, tidak sampai menjadi perilaku anak di rumah atau di lingkungan di luar sekolah. Ngeri juga kan?!

 Itulah sebabnya, kenapa menciptakan lingkungan positif harus menjadi senjata orang tua, baru kemudian tugas dapat diemban oleh guru untuk dilaksanakan di sekolah.

 Dalam prosesnya, input yang diterima anak baik berupa suara, tulisan atau visual akan masuk kedalam alam bawah sadar pikiran seorang anak yang kemudian diolah dalam frame otak sehingga akan menjadi dorongan terhadap karakater dan perilaku anak , yang sebenarnya tanpa disadari bahwa perilaku dan karakter anak yang sering kita lihat adalah dari hasil pengolahan input yang anak terima melalui panca inderanya yang kemudian dikeluarkan dalam output perilaku.

BACA JUGA :  Era Digital Untuk Caraka
orang tua sangat berperan dalam memberikan lingkungan yang positif bagi anak
orang tua sangat berperan dalam memberikan lingkungan yang positif bagi anak

Menanamkan pesan pesan posiitif kepada anak mulai dari membuka mata dari tidur sampai kembali tidur akan mampu membantu anak dalam hal menyaring input input yang akan selalu mereka dapatkan dalam lingkungan baik sekolah, rumah atau masyarakat ditengah sedang merebaknya input input atau pesan pesan negative yang sangat mengkhawatirkan baik.

1. Tulisan/bacaan positif

Buatlah lingkungan rumah yang menonjolkan tulisan tulisan motivasi dan mendidik.Hal kecil lainnya adalah pakaian pakaian yang yang bergambar motivasi, buku tulis yang mengandung tulisan positif , buku buku bacaan yang mendidik dan lain lain.

2. Tayangan positif ( TV , tayangan komersil )

Seorang anak yang notabene frame otaknya masih sangat sempit, atau belum pandai untuk menganalisa mana hal yang baik dan mana yang buruk jangan dibiarkan menjadi objek keganasan tayangan yang dikhususkan orang dewasa. Walau terlihat sepele, tapi ketahuilah bahwa input yang diterima anak akan menjadi komposisi perilaku anak dalam pembentukan karakternya sejalan dengan usia yang bertumbuhh dengan tanpa disadari. Logika sederhananya adalah, jika konsumsi visual anak dari kecil adalah melihat orang tuanya selalu Shalat, maka karakter anak yang akan terbentuk adalah bagaimana si anak berusaha untuk shalat seperti yang anak lihat terhadap orangtuanya.

3. Bahasa bahasa positif

Yang satu ini konteksnya luas ya, bisa dari buku bacaan, percakapan, baik dari ucapan ucapan yang didengar di lingkungan rumah ataupun dalam sebuah tayangan yang di tonton anak.

Visi kedepannya jadi jelas ya, tugas yang diemban oleh guru guru disekolah dalam hal menciptakan kondisi yang positif untuk di terapkan kepada siswa harus juga menjadi misi para orang tua dan di estafetkan dalam lingkungan di luar sekolah , baik dalam pengawasan, pengarahan dan evaluasi sikap.

BACA JUGA :  Belajar Siklus Hidup Menggunakan Life Cycle Tray yang Super Gemash!

Sehingga, dimulai dari madrasah pertama anak yaitu keluarga melalui orang tua, menjadi trendsetter dalam lingkungan dan kemudian menjadi budaya dalam sebuah Negara. Amiiinnnn!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *