Tiap-tiap makhluk dan ciptaan Tuhan memiliki peranannya masing-masing, seperti awan putih yang melekat dilangit biru, seperti keanggunan cahaya bulan yang bersinar dimalam hari. Air, tanah, angin dan api tidak pernah mengikari hukum fisikanya. Mamah bilang ke saya mereka juga bertasbih pada Sang Maha Satu, dan saya mudah sekali jatuh cinta pada segala macam jenis ketaatan. Ya! Saya jatuh cinta sama alam, dari galaksi hingga inti bumi.

Jika ada pejalan yang memulai perjalanannya karena alasan patah hati atau ingin lari dari masalah, jujur sayalah salah satunya. Konflik yang begitu rumit bertubi-tubi datang diawal semester perkuliahan, mulai dari konflik sahabat hingga penghianatan kekasih. Percayalah saya bukan tipe orang yang suka melebih-lebihkan hanya saja ini cukup dalam melukai kala itu.

Alam tidak pernah berkhianat, alam sosok yang paling jujur dan berhenti membuat saya takut. Apakah air pernah mencoba mengalir ke tempat yang lebih tinggi? Tidak! Apakah api pernah lalai untuk tidak membakar? Tidak! Begitulah cara mereka bertasbih.

Saya memulai perjalanan dengan dua sahabat yang tidak pernah banyak memiliki pertanyaan, mereka hanya jauh lebih banyak memberi daripada mengasihani. Merekalah travelmates sempurna pertama yang saya miliki, Sarah dan Tika. Saya rasa kami semua sama lebamnya, jatuh cinta berkali-kali sama perjalanan kami yang tanpa henti memberikan kejutan hingga tidak tahu kapan harus berhenti traveling.

Potret anak-anak sawarna

Tahun 2011 perjalanan kami dimulai di kepulauan seribu yakni Pulau Pramuka, “Kita harus menemukan pantai yang lebih indah” tidak lama berselang kami tiba di Pantai Sawarna, “Kita keluar negeri yuk” dan dengan ajaib Allahpun menjabahnya di tahun 2013.

Sarah dan Tika jika diibaratkan adalah sebuah landscape laut dan langitnya, bisa menenangkan tapi juga bisa gemuruh secara tiba-tiba. Sarah yang bijak seperti melengkapi Tika yang suka berontak dan saya yang agak pemalas. Bukankan begitulah The power of travelmates?! Ah pokoknya saya sayang sekali sama mereka melebihi 1000 kali jarak Jakarta-Turki-Jakarta.

Pada akhirnya sebuah kenangan hanya akan bekerja sebagai hal yang seru untuk diingat dan diceritakan, tapi setidaknya itu membuat saya tidak berhenti untuk bersyukur, ada saja pengalaman yang tak perlupakan di tiap-tiap perjalanan kami. “Kalo sama kalian, pergi kemanapun seperti dikelilingi sama berkah”  kata Tika.

Total tempat yang  kami kunjungi memang belum terlalu banyak, Pramuka, Sawarna, Sunda Kelapa, TIM, Pulo Merak, Pulosari, hingga berkunjung ke wihara-wihara dan bermain sampan di Sungai Cisadane. Sesederhana tempat seperti Cisadane kemudian mereka membuat saya semakin menjadi pengkhayal kelas tinggi, travelmates saya yang dua ini bilang “It’s just for begining, nantinya kita akan menikmati sungai luar negeri” Dan Allah memang Maha Mendengar doa para pejalan.

Di tahun 2013 kami bisa merealisasikan mimpi kami untuk menginjakkan kaki ke luar negeri, meski hanya Malaysia dan Thailand namun kami tidak mempunyai alasan untuk tidak mensyukuri nikmat luar biasa ini. From Kali Cisadane to Melaka River Cruise Malaysia, magic!

Demi Pencipta bumi ini Yang Maha Keren, saya bahkan masih mengingat betul moment-moment yang kami lewati kala mencoba melebarkan sayap, memijakkan kaki di belahan bumi yang bukan lagi Indonesia. Rasanya sangat gila bila mendengar keberangkatan kami yang sangat “Let it be” tanpa booking penginapan manapun, tanpa kenalan apalagi guide untuk mengeksplore negara orang. Kami berangkat hanya dengan restu orang tua dan merasa ‘cukup’. Dan syukurlah tidak ada hambatan yang berarti.

 

Tiba di Malaysia kami langsung menjajal untuk beribadah di Masjid Jamek yang tersohor itu kemudian dengan ilmu ‘sotoy’ kami mencoba berjalan kaki menuju Twin Towers sebelum melanjutkan perjalanan ke Hatyai malam harinya. Dengan beban tas 5 hari perjalanan dipunggung rasanya kami salah untuk tidak naik KRL, tapi begitulah kelakuan travelmates saya ini, bukannya menyesal malah tertawa renyah atas pilihan yang menyebabkan punggung mau patah sambil berebut mie gelas yang diremukan dan dicemilin. Manis ya?!

Kota Hatyai 2013
Kota Hatyai 2013

Itinerary dan tempat yang berhasil kami explore adalah Twin Towers, Batu Caves, Hatyai- Thailand, George Town Penang, baru kemudian Melaka. Melaka menjadi penutup perjalanan kami dihari terakhir, suka-duka mencari hostel dan tempat tujuan kami putar kembali dimemori. Suasana malam di Melaka memang ajaib, mampu memendam bahasa dalam diam dan menjadikannya perasaan nyaman juga menyenangkan. Cuma lima hari dan kami kangen sekali dengan keluarga, kangen makan bakso favorite di Jakarta, bahkan kangen asap metromini (abaikan yang terakhir). Malam ditutup dengan berkirim voice note kekeluarga masing-masing sambil menahan tangis bahagia. Saya, Sarah dan Tika masih mempunyai mimpi mengunjungi negara-negara idaman bersama-sama. Prancis milik Sarah, Korea pilihan Tika dan saya sendiri amat ingin berlabuh ke Turki.

Setelah berhasil melakukan perjalanan hingga negara lain, saya rasa mental saya menjadi semakin mandiri dan terlatih. Menemukan jati diri dalam perjalanan ternyata memang benar adanya, dipaksa berpikir cepat, dipaksa menyelesaikan masalah tidaklah terlalu buruk, karena itulah yang sangat dibutuhkan seorang survivor. Saya ingat harus menahan ingin makan enak di Hatyai Thailand karena uang yang sangat pas-pasan, tapi bukankah hidup harus pintar mempertimbangkan?! Menahan ingin sedikit tidaklah mengapa demi bisa kembali pulang, toh Thailand tidak kemana-mana dan bisa kembali dikunjungin suatu saat nanti.

BACA JUGA :  Ubud Dan Rajanya Yang Menginspirasi

Traveling buat saya bukanlah sebuah gaya hidup, tapi sebuah kebutuhan yang rasanya semakin menjangkiti batin dan  membuat saya semakin hidup, bahkan membawakan saya pada takdir yang besar. Seperti yang saya katakan sebelumnya, tahun 2012 adalah skala waktu terberat dalam masa per-ABG-an saya kala itu (halaaah), hingga akhirnya memutuskan untuk cuti bekerja dan liburan ke Bali seusai Ujian Akhir Semester.

Dari pengalaman bersama teman yang sering mencari teman baru satu perjalanan disebuah forum, sayapun mencoba peruntungan yang sama. Berharap mendapat teman (red: guide gratis) di Bali saya pun bertanya di forum  Celoteh Backpacker apakah ada yang berencana atau penghuni Bali yang bisa diajak ngtrip bareng.

Diluar dugaan ternyata yang merespon adalah traveler yang memang kebetulan tinggal di Bali, mas Rijal Fahmi Mohamadi yang awalnya saya kira penduduk asli Bali ini kemudian memberi kontak hp dan bersedia membantu saat saya tiba di Bali nantinya.

Masih ingat betul yakni tanggal 3 Oktober 2012, dengan promo tiket dari Citilink kala itu saya berangkat minus Sarah – Tika dan berangkat bersama adik perempuan juga delapan orang teman lainnya. Awal tiba di Bali saya tidak langsung menghubungi Fahmi karena kami semua sudah menyewa mobil pribadi untuk membawa kami berkeliling di 3 hari pertama. Dihari ketiga rombongan kembali ke Jakarta termasuk Rina (adik) menyisakan saya, Wanda dan Febby yang memang extend sampai 5 hari tanpa mereka.

Kami yang hanya bertiga tidak mungkin terus menggunakan mobil yang sewanya mahal sekali, bahkan untuk menyewa 2 sepeda motor saja terlalu boros (maklum kantong mahasiswi Hehee). Sayapun langsung teringat Fahmi yang katanya bersedia membantu jika dibutuhkan, jujur saja awalnya kami lebih butuh sepeda motornya daripada semacam mas-mas yang  jomblo :p

teman baru terasik
Travelmate baru terasik

“Kak Fahmi! aku sudah di Bali loh.. Kamu besok sibuk nggak? Ada sepeda motorkan? Ehehhee” pesan memalukan inipun benar-benar saya kirim ke beliau.

Pesan direspon baik, Fahmi bersedia meluangkan waktu dan jok belakang motornya pun available, jadi kami hanya perlu menyewa satu motor. Mission complete!! Akakaka

Jum’at malam 5 Oktober 2012, kami memutuskan bertemu dengan si Kak Fahmi untuk saling mengenal (tapi belum saling sayang) supaya nggak krikk-krikk saat ngetrip bareng nantinya. Jam sembilan malam ke Discovery Mall dengan berjalan kaki dari jalan Poppies Lane II, saya, Wanda dan Febby menebak-nebak gimana rasanya traveling bersama orang asing yang belum dikenal sama sekali nantinya, sambil berharap semoga tidak kalah menyenangkan.

Fahmi tidak menunggu sendirian, ada satu lagi laki-laki muda yang duduk disebelahnya. Hanya ada mereka berdua di Starbuck yang hampir mau tutup itu, gelas di depan mejanya pun sudah kosong. Kami fikir mereka asli orang Bali, ternyata malah logat jawa kental yang terdengar saat berjabat tangan. Fahmi asal Blitar dan kak Ifan pun asal kota Malang, mereka merantau dan bekerja diperusahaan yang sama dekat pantai Kuta dan kebetulan mempunyai waktu luang jadi bisa menemani kami.

Keesokan harinya tidak hanya kak Fahmi dan kak Ifan, ada satu lagi yang menemani yakni kak Anas yang sama medoknya, jadi total ada 3 pria dewasa dan 3 wanita ABG lugu asal Jakarta yang senang-senang saja karena tinggal duduk manis dibelakang jok motor dengan gratis. Dan ternyata explorasi kita bersama sangat PETCAAAH! Saya, Wanda dan Febby diantar ke pantai-pantai yang masih sepi alias virgin beach. Seperti kawan lama yang tidak jumpa, kami semua bisa merasa dekat dan tidak canggung, meskipun keluar bullyan-bullyan tidak penting tapi perjalanan menjadi sangat seru. Saking akrabnya kami malah sampai kepikiran mau membentuk boy-girlband baru ;p

Lucunya dari persahabatan singkat kami adalah kak Fahmi, kak Ifan dan Kak Anas ini kalo ngobrol pake bahasa jawa yang saya, Wanda dan Febby tidak pahami sama sekali. Alhasil, terjadilah roaming season yang bikin komunikasi tidak seimbang, tapi itu tidaklah terlalu mengganggu dan justru menjadi kenangan unik untuk kami berenam. Eksplorasi ditutup oleh sunset yang sangat anggun di pantai Tegal Wangi, kami tidak menuruni bukit untuk bertemu air, hanya duduk-duduk santai diatas bukit dan menikmati golden hours yang disuguhkan. Percayalah, senja yang kami nikmati sangat cantik, awalnya berwarna emas, kemudian menjadi kecoklatan bercampur oranye pekat, setelah matahari tenggelam penuh, langit sekeliling kami berubah menjadi pink.. ungu.. jingga, entah apa namanya bayangkan saja warna senja yang belum pernah ada dilukisan manapun tapi nyata. Tidak ada kata yang berani keluar dan merusak moment ini, kecuali batin yang berucap “ Terimakasih Tuhan, atas kawan dan warna senja baru untuk ingatan”

Kami pulang ke hotel untuk mandi lalu kembali duduk santai di pantai Kuta, hanya kak Fahmi yang menemani kami berbincang dibelakang Discovery Mall sambil diiringi suara debur ombak. Melanjutkan perbincangan saya dan Fahmi diatas motor seharian tadi mengenai buku, Wanda dan Febby yang katanya ijin ke toilet malah lama tidak kembali. Entah apa motivasi mereka, saya tidak menghiraukan justru keasyikan ngobrol selama 2 jam sama pemuda tinggi berkacama sebelah saya ini.

BACA JUGA :  Dihipnotis Bandung Dalam 2 Bulan
Bentuk senja pertama bersama Fahmi
Bentuk senja pertama bersama Fahmi

Menemukan diri sendiri dalam sosok orang lain, lama berbincang membuat saya menemukan terlalu banyak kemiripan antara saya dan Fahmi. Mulai dari hobby traveling, menulis perjalanan di blog pribadi, buku-buku bacaan favorite, judul lagu favorite Stranger dari Secondhand Serenade (kami masing-masing sudah  menonton konsernya dilain kota), hingga kacamata berminus lima. Satu lagi, kami sama-sama memiliki mimpi yang besar, mimpi pecinta doraemon ini ada di Jepang, sedangkan saya ada di Turki. Mungkinkah ini konsep yang disebut kebetulan?! Saat itu saya berfikir ((IYA)) J

Dikarenakan flight kembali ke Jakarta di flight sore, maka hari terakhir kami di Bali hanya digunakan untuk membeli oleh-oleh dan masih meminta ditemani oleh kak Fahmi. Saya tidak terlalu hobby berbelanja ketika traveling, dan lagi-lagi saya harus berduaan sama Fahmi untuk menunggu didepan Joger.  Sebagai tanda terimakasih saya memberi buku Whatever Backpacker yang ditulis Adis yang kebetulan belum dimilikinya, tapi Fahmi justru memberi saya balik bukunya Trinity yang seri pertama. Entah apa saja yang dibeli Wanda dan Febby, kami sampai harus keliling mulai dari Joger, Khrisna hingga Bali Hawai dan membuat Fahmi terheran-heran saking banyaknya.

Kembali ke Jakarta artinya kembali menghadapi kenyataan akan rutinitas bekerja dan kuliah, bergulat dengan penumpang-penumpang airport di loket ticketing terminal 1b Soekarno Hatta. Kembali kekampus disore hari dengan tugas-tugas yang (tidak) manusiawi, namun ada rutinitas baru yakni membalas chat dikontak baru blackberry bernama Rijal Fahmi Mohamadi. Sekembalinya ke Jakarta Fahmi menjadi teman baru untuk mengobrol, adiknya yang tinggal di Jakarta membuatnya lumayan sering singgah di Ibu Kota.

16 Oktober, 10 hari setelah kepulangan saya dari Bali adalah tanggal ulang tahun saya yang seingat saya sudah di hidden di profil facebook, kemudian Fahmi yang masih saya panggil kakak kala itu mengaku mempunyai teman di terminal 3 dan sudah menitipkan paket buat saya sebagai tanda kado ulang tahun. Entah dapat info dari mana dia selalu menjawab enteng “Aku kan progremer” hmmn baiklah.

Sesuai perintah saya sendirian menjemput paket tersebut ke terminal 3 tanpa bisa menebak apa isi paket yang dimaksud.

“Aku udah di terminal 3, temanmu dimana kak..”

Pesan yang saya kirim seketika tidak lagi membutuhkan balasan. Fahmi muncul dari pintu arrival dengan kaos merah dan celana pendeknya, membawa ransel yang saya yakin ada sleeping bag didalamnya. Satu yang belum saya jabarkan sebelumnya.. dia gila!

Paket sudah ditangan dilengkapi dengan kurirnya langsung, diberikan surprise ulang tahun oleh orang asing adalah perasaan yang membuat saya risih, tidak tau harus bagaimana Fahmi seperti memberi sinyal untuk menjalin sebuah hubungan lebih yang saya rasa sungguh masih terlalu cepat. Awalnya saya mencoba tidak menanggapi terlalu serius bila obrolan di chat sudah mengarah ke topik yang Fahmi pasang di status blackberry yang isinya “ Stranger, be my angel!”

Namun hal menjadi berbeda ketika buku yang Fahmi bawa adalah buku yang memang sedang saya cari, ditambah kenekatannya yang harus terbang melintasi pulau, menginap dibandara demi orang asing yang cuma ia jumpai selama 2 hari. Saya meleleh campur bingung, beberapa pertanyaan basi saya ajukan untuk menjadi bahan pertimbangan.

“Apa motivasi kamu senekat ini? Kenapa bisa aku?”

Jawaban Fahmi begitu singkat dan membuat sedikit berfikir.

“Insting!”

Kemudian saya berfikir bahwa saya iri padanya, bisa mempekerjakan tubuh sesuai insting dengan begitu mantap-bukankah insting adalah perasaan yang begitu halus?! Baiklah saya mau coba belajar ilmu yakin darinya.

Fahmi selalu mengabaikan jarak antara Jakarta dan Bali, sepertinya dia lupa bahwa zona waktunya sajapun sudah berbeda. Jawaban “Cuma 2 jam naik pesawat aja kok!” tidak pernah berhenti buat dahi saya berkerut, dia unik. Tidak ada desakan untuk saya sama sekali, bahkan bertanya secara langsungpun tidak, ia hanya terus menarik saya dengan caranya sendiri, tanpa hubungan yang jelas.. kami berangkat ke Bandung.

Jika ingin mengenal seseorang lebih baik, cara yang paling ampuh tentu saja dengan perjalanan yang dilewati bersama. Misi ke Bandung adalah misi penilaian untuk saya ke Fahmi, dengan panggilan yang masih dengan embel-embel ‘Kak’ gantian saya yang menjadi guidenya karena memang belum banyak tempat yang ia tau di Bandung. Percaya atau tidak, kami naik motor dari Bandung kota hingga Kawah Putih, seperti perjalanan di Bali sebelumnya Fahmi tetap tidaklah berisik, like.. He know how to shut up and listen.

Dan kalian mau tahu apa yang paling membuat saya fix jatuh cinta?! Bukan kunci mobil Alphard ataupun cek milliaran dollar, saya melihat ada sarung di ranselnya! Saya sudah katakan sebelumnya bukan?! Bahwa saya mudah sekali jatuh cinta pada segala macam jenis ketaatan. Sekembalinya Fahmi ke Bali, tanpa jawaban yes or no kami tetap keep in touch dan mungkin pantas di sebut sebagai LDR.

Mendengar perkembangan hubungan saya dah Fahmi tentu saja Wanda dan Febbylah yang akhirnya paling antusias, “Cerita kalian nyontek FTV banget”-katanya, huft. Tapi baiklah, bagaimanapun hubungan kami nantinya, saya harus bilang pada Sarah dan Tika bahwa saya punya travelmate baru namun mereka tetap tak tergantikan.

BACA JUGA :  Mengenal Dan Mengagumi (Karya) Affandi Lebih Dekat

Jika dibandingkan hubungan Long Distance Relationship pada umumnya, kami termasuk yang sangat jarang bertelefon ria, entah kenapa tapi kami lebih menggemari berdiskusi melalui chatting. Menurut saya karena kami sama-sama suka menulis, kata-kata seperti lebih memiliki kekuatan untuk mentransfer segala macam bentuk perasaan.

Kami tidak punya tanggal jadian, tapi diusia hubungan sekitar enam bulam Fahmi berangkat ke Jepang untuk menceklist 1 mimpinya yang tercapai, sedangkan saya masih dengan travelmates kesayangan Sarah dan Tika plesiran naik gunung ke Pulosari. Saya bahagia, karena menjadi saksi sebuah mimpi yang tercapai adalah sebuah penghormatan perasaan.

“Sayang, aku menang lomba, kamu bisa cuti kapan? Kita berangkat ke Lombok!” Anak ini punya pembuluh darah tambahan bernama ‘kejutan’ karena saking seringnya buat saya terkejut. Ada kompetisi menulis yang diikutinya yang berhasil ia menangkan, dan  ketahuilah tulisan tersebut menceritakan kisah perjalanan kami yang berjumpa di Bali dan akhirnya berpacaran. Silahkan baca ceritanya disini.

Pantai Tangsi yang menjadi saksi

Saya benar-benar berangkat ke Lombok dari Jakarta, sedang Fahmi berangkat dari Bali. Dengan kepercayaan tinggi yang diberi orang tua, saya mau buat cerita indah tanpa mengecewakan mereka. Jika ingin tahu gaya traveling kami bersama adalah, ketika Fahmi sudah membidik lensa kamera ke landscape yang dipilihnya saya bukanlah lagi seorang ‘putri’, tangga berbatu jika tingginya belum 1 meter tangannya tidak akan diulurkan untuk membantu saya melangkah. Fahmi akan sudah jauh berada didepan dan lupa sudah membawa ‘anak orang’ jauh-jauh dari kota asalnya. Tapi justru bagi saya itu manis!

Hubungan yang lancar dan sangat mulus pertanda jodoh-katanya, bisa saja kami terus ber-LDR hingga muncul masalah-masalah baru. Namun mendadak Fahmi mendapat pekerjaan yang sangat baik di Jakarta, seperti senin kirim CV, selasa ditelfon dan rabu disuruh interview apakah pantas disebut kebetulan? Bukan, itu takdir. Maka usia pacaran jarak jauh kamipun berakhir diusia ke delapan bulan, Fahmi pindah ke Jakarta karena memang perusahaannya cukup baik untuk kariernya-ya selain tentu saja ada saya disini salah satu pertimbangannya.

Jika pria pada umumnya adalah menuntut untuk wanitanya supaya tampil cantik dengan make-up atau baju bagus, Fahmi lain sendiri. Dia sangat amat cerewet untuk terus tanpa bosan mendesak saya untuk mengisi blog, saya paling suka part itu, bagian dimana belahan jiwa memotivasi untuk hal yang saya jiwai yakni menulis.

Tapi tidak ada manusia yang sempurna, saya tidak bisa terus mengimbanginya untuk berpura-pura dapat perhatian penuh, jika ada sistem organ tubuh yang bekerja sebagai peraba hati seorang perempuan saya yakin Fahmi tidaklah mempunyai itu. Bukan saya yang manja, tapi saya Putri Normal(ita) yang keinginannya sederhana wanita normal lainnya, perhatian.

Lelah rasanya mengharapkan dia untuk peka, bukan permintaan manja diantar-jemput ataupun ditelefon, pedih rasanya ketika jalan bareng dengan Sarah dan Tika kemudian mereka mendapat telefon dan rutinitas “Mau dijemput dimana?” dari kekasihnya masing-masing. Well, saya tegaskan saya tidak minta dijemput, saya hanya minta pertanyaan sederhana saja darinya “Kamu sudah sampai rumah belum?” sayangnya itu cuma PHP (Pengharapan Palsu). Pria normal akan melakukan apapun ketika wanitanya ngambek bukan?! Membujuk, menelepon bahkan sang mantan sayapun sampai datang kerumah. Tapi menjalin hubungan dengan Fahmi sungguh buat wanita manapun frustasi, saya pacar pertamanya-katanya, jelaslah sudah dimana akar permasalahan hubungan kami.  

Sampai akhirnya saya memahami bahwa berharap Fahmi peka seperti berharap Pulau Bali pindah ke Kepulauan Seribu, bisa menjadi judul baru film Mission Imposible 7. Tuhan telah memberi ruas pada kelima jari tiap hambanya, karena ruas itu adalah tempat yang akan diisi oleh orang yang telah menjadi takdir kita nantinya, saya menyebutnya; celah daya cinta.

Dua pemburu senja, siap bersama selamanya
Dua pemburu senja, siap bersama selamanya

28 Oktober 2014

Travelmate yang saya temukan di Bali dua tahun lalu itu saat ini sedang berada disebelah saya, kami masih rukun dan terus merangkai mimpi bersama. Terus melakukan perjalanan ke banyak tempat dan menulisnya. Ketika memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan Fahmi yang sangat mirip dengan saya sendiri, saya akan berfikir ini pasti akan sangat membosankan.

Namun manusia memang tempatnya salah, seiring waktu dilewati bersama telah banyak perbedaan antara kami yang saya temui. Dan tugas kami berdua adalah saling melengkapinya satu sama lain hingga akhir hayat.

Saat menulis ini saya dan Fahmi sedang berada di tepian Pantai Kuta, tepat dibelakang Discovery Mall. Fahmi bilang dia jatuh cinta sama saya disini, saat mengobrol banyak malam-malam seperti saat ini. Satu bulan yang lalu yakni 28 september 2014 kami telah resmi menjadi travelmate yang Sah dimata agama dan negara, kami berencana honeymoon selama satu bulan penuh. Saya berjanji tidak akan berhenti untuk traveling, sebuah cara yang telah membawa saya pada takdir yang sangat manis, menjadikan kacamata minus lima kami tak pernah henti memandang lukisan-lukisan indah dari Tuhan.

Terhitung sejak di Bali dua tahun lalu, saya mempunyai dua cinta yakni sebuah perjalanan dan Rijal Fahmi Mohamadi. Selamat menemukan cinta saat traveling J

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *